Penemuan Terbesar Steve Jobs adalah: Dirinya Sendiri



SUNGGUH tidak enak menjadi seorang Steve Jobs (1955-2011), pada mulanya begitu. Dan sungguh membanggakan menjadi seorang Steve Jobs, pada akhirnya begitu.
Sejak awal ia adalah  manusia yang tidak diharapkan lahir ke dunia.  Beberapa lama dia juga tak tahu hendak menjadi apa. Kelahirannya tidak dikehendaki.  Ibu dan ayah biologisnya masih mahasiswa di University of Wisconsin ketika janinnya berkembang.  Orangtua si mahasiswi, tidak ingin anaknya menikah dengan lelaki keturunan Suriah bernama Abdulfattah Jandali, yang hingga si anak meninggal tak pernah saling bertemu. Jandali kini masih hidup dan bekerja di sebuah kasino. 
 
Pilihannya hanya satu: aborsi! Si mahasiswi - Joanne Schieble  memilih  melahirkan bayinya. Diam-diam ia tinggalkan Wisconsin dan pergi ke San Francisco dan melahirkan di sana, lalu menyerahkan anak yang tak sempat ia beri nama itu pada pasangan Paul dan Clara Jobs - sebuah keluarga kelas pekerja yang dalam struktur ekonomi-sosial Amerika mungkin berada di level paling bawah. 
Paul tak tamat SMA. Ia bekerja macam-macam: jadi penagih utang, tukang sita barang, dan masinis.  Sementara Clara bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan teknologi canggih pertama di Lembah Silikon.
Meski dalam kontrak adopsi ada kesepakatan bahwa si orangtua angkat itu harus mengurus pendidikan si anak hingga selesai kuliah, nyatanya Steve Jobs hanya sempat duduk satu semester di kursi perguruan tinggi.
*
Paul dan Clara Jobs sempat ingin mengembalikan Steve Jobs, anak angkatnya yang ternyata sangat merepotkan.  Steve kecil tumbuh sebagai anak yang gal-gal, temperamental.  Tangannya pernah terbakar karena memasukkan jepitan rambut ke colokan listrik.  Ia pernah minum racun semut, dan nyawanya selamat setelah isi perutnya dipompa. 
“Dia anak yang menyusahkan,” kata Clara Jobs.  Keluarga Jobs lalu pindah ke Mountain View dengan tekad mengubah nasib yang tak kunjung baik.  Saat itu Steve kecil berusia tiga tahun. Paul menjajal usaha properti dan memperbaiki mobil-mobil. 
Ketika kelas empat Steve  yang tidak pintar – dan dengan putus asa pernah menjawab gurunya, Imogen Hill, begini: “Saya tak paham kenapa kami tiba-tiba begitu melarat.”
Saat itu gurunya bertanya kepada setiap murid, “Apa yang kamu tidak pahami di alam semesta ini?”
Sampai di situ, riwayat hidup Jobs tidak menjanjikan apa-apa.  Di kelas ia usil, terlalu banyak bicara, dan kurang memperhatikan pelajaran.  Belakangan Steve mengaku diselamatkan oleh guru Hill yang membayarnya lima dollar agar mau mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca.  Hill, guru yang jeli itu, melihat potensi besar di balik kenakalan anak didiknya itu.  “Dia adalah salah satu penyelamat hidup saya,” kata Jobs, seperti ditulis Norman Seeff di majalah Rolling Stone (November, 2011).
*
Ketika SMA, tanpa merasa bersalah dan menutup-nutupi pada ayahnya, Steve menjadi pengguna mariyuana, pergi dari rumah dan hidup serumah dengan pacarnya.  Sampai di titik itu, ia juga belum tahu hendak hidup sebagai apa, dan ia belum menemukan dirinya sendiri.
Steve lalu masuk kuliah di perguruan tinggi swasta Reed College, di Oregon.  Itu hanya ia jalani selama enam bulan dan setelah itu ia merasa kuliah taka da gunanya.  Ia merasa bersalah karena kuliah itu hanya akan menghabiskan tabungan orangtua angkatnya. Ia memilih berhenti.  Lagipula sebagai mahasiswa Steve amat miskin. Ia tak bisa menyewa kamar asrama, dan tidur menumpang di lantai kamar kawan-kawannya, bergantian. 
Putus kuliah, Steve secara iseng saja belajar kaligrafi. Diakuinya kelak, bekas pelajaran kaligrafi itulah yang membuat produk Apple sangat kuat secara desain, dan komputer Mac menyediakan jenis-jenis font yang indah.
Saat kosong kuliah itulah,  ia juga berkenalan dengan ajaran spiritual Neem Karoli Baba, hingga melakukan perjalanan ke India untuk menemui sang guru spiritual itu.  Pertemuan itu tak pernah terjadi karena sang guru meninggal sebelum Steve tiba. 
Ia lalu menggunduli kepala dan berkelana di pegunungan Himalaya. Di sana ia menyaksikan betapa menyiksanya kemiskinan, sesuatu yang sudah sangat akrab dengan dirinya.  Di sanalah, dan di saat-saat itulah Steve tercerahkan.  Jiwanya yang gelisah dan mencari ketenangan (atau pelarian?) spiritual, pelan-pelan bergeser ke  dunia praktis, ke solusi teknologi.  Ia akui, saat itulah ia berpikir bahwa Thomas Alva Edison lebih banyak jasanya dalam memperbaiki dunia daripada Karl Marx dan sosok yang menginspirasi dia Neem Karoli Baba.
*
Kisah Steve Jobs kemudian membenarkan satu adagium yang menyebutkan bahwa dunia hanya akan menyerahkan diri kepada orang-orang yang berani menjelajah, orang-orang yang tak pernah berhenti mencari dan tidak lekas mengikatkan diri pada satu pendapat sempit. Steve adalah penjelajah.
Ia pelahap lagu-lagu Bob Dylan. Pada suatu masa Steve adalah perombak lirik-lirik lagu milik idolanya itu, dan menuliskan ulang menjadi puisi-puisinya sendiri.  Ia dan teman-teman awalnya pendiri Apple pernah bekerja memerankan tokoh-tokoh Alice in Wonderland demi mendapatkan uang. 
Kisah selanjutnya adalah sejarah seorang sosok besar yang mengubah dunia dari kemungkinannya yang paling membosankan. Steve Jobs dengan produk-produk jenial Apple membuat hidup manusia bergairah. 
*
“Steve Jobs adalah Bob Dylan-nya mesin,” kata Bono, vokalis U2, “Dia adalah Elvis Presley-nya dialektika perangkat keras – perangkat lunak.”  
Kira-kira apa yang dimaksudkan oleh Bono adalah: sebagai Bob Dylan, Steve Jobs begitu teguh menempuh jalannya. Ia dipuja dan jadi panutan banyak orang. Sebagai Elvis, ia mencapai puncak popularitas, kadang dengan sensasi yang terkesan dicari-cari.  Tapi, itulah Steve Jobs.  “Dia menciptakan banyak perangkat keras hebat, tapi selama bertahun-tahun, dia juga menciptakan diri sendiri!” kata John Perry Barlow, seorang perintis industry digital dan penulis lirik-lirik lagu untuk kelompok Grateful Dead.  Itulah penemuan terhebatnya: Ia berhasil menemukan diri sendiri.
*
Sebagai manusia, tentu Steve Jobs jauh dari sempurna.  Sikap kasarnya yang tumbuh sejak kecil, terbawa hingga ia dewasa. Ia, seperti dalam kesaksian mantan karyawan Apple, punya sisi terbaik dan terburuk seorang manusia.  Yang pasti ia seorang visioner.
“Kami di Apple tidak menciptakan barang untuk memenuhi kebutuhan orang.  Kami membuat barang yang akan dibutuhkan orang,” katanya, sebagai mana diakuinya dalam biografinya yang baru saja terbit.  Ini adalah pernyataan seorang visioner sejati.
Jika kebanyakan seorang visioner hanya berpikir besar, Jobs menyatukan kejelian seorang desainer dalam dirinya. Ia sangat peduli pada detail desain.  Itu yang membedakan dan memberi karakter pada produk-produk Apple.  Di Apple,  kata Jobs,  mereka membuat produk-produk yang hebat, bukan mencari uang.  Tentu saja uang diperlukan untuk riset menghasilkan barang yang bagus. 
“Tapi, kalau uang yang menjadi tujuan, maka segalanya selesai!” kata Jobs. Ia  dengan pernyataan itu menohokkan kritik keras pada  John Scully, CEO Pepsi yang dia sendiri yang merekrut, tapi kemudian membuat Steve dipecat oleh dewan direksi Apple pada usia ke-30. 
Pemecatan itu terlihat masuk akal, soalnya pilihannya adalah Scully yang tenang dan matang dan Steve Jobs yang perangainya berangasan. Keduanya ternyata tak bisa disatukan.  Scully dipertahankan.  Tapi, saat itu, tanpa Steve Jobs Apple kehilangan rohnya, kehilangan gairah berinovasi dan semata mengejar laba.  Itu yang justru membuat perusahan itu terjun bebas ke tubir jurang kebangkrutan, sebelum Jobs direkrut kembali.
*
Sekuat apa produk-produk Apple? Ada lelucon begini: hanya ada dua jenis pengguna komputer. Pertama, pemakai Mac. Kedua, mereka yang ingin menjadi pemakai Mac.   Ya, ini memang cuma lelucon, tapi setidaknya itu bisa memberi gambaran betapa kuatnya produk yang lahir dari visi seorang Steve Jobs.
“Seperti penjara,” kata kawan saya, “sekali kita memakai Mac, kita tak bisa lagi memakai produk lain. Tapi, kita betah di dalam penjara ini.”  Sekarang, saya ada dalam penjara itu.  Kolom ini saya tulis di MacBook Air, notebook paling tipis pertama di dunia.  Terima kasih, Steve Jobs.***  
 
 
 
 
[Read More...]


[kolom] Visi dan Misi yang Mubazir



ADA sebuah rumah sakit dengan visi begini: menjadi rumah sakit pilihan dengan perhatian penuh pada kepedulian dan keunggulan. Saya menjadi pasien di situ, setelah kecewa dengan beberapa rumah sakit sebelumnya.

Rumah sakit yang hendak saya ceritakan ini menurut saya benar-benar mewujudkan visi dan misinya dalam praktek melayani pasiennya. Maka saya tak heran jika kisah-kisah pasien seruang perawatan inap dengan saya adalah kisah tentang kepuasan dan pujian yang tak berlebihan.

Ketika kita memilih sebuah rumah sakit, pedulikah kita pada visi dan misinya? Apakah kita membaca visi dan misi meskipun itu ada terpampang besar di dinding koridornya? Saya kira kebanyakan dari kita menjawab tidak.


Tapi di rumah sakit yang saya ceritakan ini, sambil berbaring setelah operasi batu ginjal, saya jadi amat tertarik membaca visi dan misinya di brosur yang diberikan kepada saya sebagai pasien. Di brosur itu juga tercantum hak-hak saya sebagai pasien juga kewajiban saya. Perawat juga menjelaskan hal itu dengan ringkas. Segala peraturan itu kembali ke saya, yaitu agar proses perawatan berjalan lancar. Maka, misi pertama sudah diwujudkan oleh pihak rumah sakit tersebut: Kepada Pasien, Perawatan Kesehatan yang Berkualitas.

Di rumah sakit sebelumnya - yang saya tak pernah peduli apa visi-misinya, yang pasti bagus dan pasti tak bisa mereka praktekkan -  saya bahkan tidak tahu saya sedang sakit apa. Saya juga tidak pernah mendapat penjelasan apa hak dan kewajiban saya sebagai pasien.

Saya ditawarkan berbagai tindakan medis, tapi saya tidak yakin apa perlunya itu dan apakah saya akan sembuh karenanya. Maka yang muncul dalam pikiran saya adalah, "jangan-jangan saya ditipu, supaya bayar mahal padahal sebenarnya saya tak perlu tindakan itu." Sebagai pasien saya curiga.

Sementara di rumah sakit lain yang bagus itu saya melihat para pekerja yang cekatan, lekas, dan disiplin. Juga ramah. Tak ada yang malas-malasan.Tak ada yang mengobrol atau sibuk membaca, dan kirim SMS.  Ups, juga tak ada yang televisi. Ketika ada sedikit soal keuangan - saya tak bawa uang kontan yang cukup - si petugas kasir lekas memberi sejumlah alternatif. Baginya yang penting adalah saya lekas diberi tindakan.

Bagaimana bisa rumah sakit bagus ini membuat etos kerja sebagus itu? Entahlah, tapi saya mencatat misi kedua mereka adalah: Kepada Karyawan Kami, Jenjang Karir yang Pasti. Tanpa itu, saya kira para pekerja di perusahaan manapun akan asal-asalan saja bekerja.

Misi ketiga rumah sakit tersebut: Kepada para Dokter Kami, Dukungan sepenuhnya bagi Perkembangan Profesional. Saya kira dukungan itu termasuklah peralatan kerja yang canggih, laboratorium dan operator yang terampil, juga kesempatan menempuh pendidikan. Sebagai pasien saya merasakan bagaimana dokter yang menangani saya bekerja dengan sangat profesional. Skema pengobatan, biaya, sakit yang akan saya tanggungkan, dan proses penyembuhan pascaoperasi dijelaskan sebelum saya setuju tindakan tersebut.

Saya ingat dokter yang menangani saya sebelumnya di rumah sakit lain. Sambil memeriksa saya dia mengomelkan fasilitas medis yang ditolak oleh rumah sakit. Ia juga menggerutu bagaimana dulu dia bekerja di rumah sakit di Eropa dengan alat-alat pendukung yang lebih baik. Dia juga - di depan saya yang masih terbaring di ranjang pemeriksaan - bilang hari itu menolak untuk ikut rapat dengan pihak manajemen. "Rapat terus, tak ada juga hasilnya," katanya.

Aduh, Pak Dokter, bagaimana saya bisa yakin dengan kesembuhan saya ketika ditangani oleh dokter yang bekerja dengan setengah hati begini? Bagaimana saya bisa nyaman berobat di rumah sakit ini jika dari mulut Anda saya tahu betapa terbatasnya fasilitas peratawan yang ada?


*

Visi dan misi, belajar dari dua rumah sakit di atas, menurut saya, bukanlah bingkai cita-cita yang hendak dicapai nanti. Tapi ruh dan sekaligus wujud dari segala yang mampu dibuat pada saat ini. Jika tidak begitu, maka visi dan misi hanya akan jadi hal yang mubazir dan kosong.
  

*


Ini cerita lain lagi. Ini soal pelabuhan. Kita yang tinggal di kawasan bahari ini tentu sangat akrab dengan sarana transportasi itu. Kita juga tahu siapa yang mengelola pelabuhan-pelabuhan besar di Kepulauan ini. Libur lebaran kemarin saya seperti biasa berkumpul dengan kakek dan neneknya anak-anak saya yang tinggal di pulau lain. Tentu saya harus lewat pelabuhan dan saya harus bilang ini adalah pelabuhan yang tidak nyaman.

Di tengah calon penumpang yang tak beraturan, semua berebut lekas-lekas masuk ke dermaga, tak jelas kapal apa yang hendak berangkat duluan dan yang mana yang kemudian, saya mencatat visi dan misi perusahaan yang mengoperasikan pelabuhan tersebut.

Visinya kira-kira begini: Menjadi penyedia jasa kepelabuhanan terkemuka! Bagus, bukan? Nah, misinya kira-kira begini:  Menyediakan jasa kepelabuhanan  berkualitas yang memenuhi harapan pelanggan dan  nilai tambah bagi ekonomi daerah. Nah yang lebih tidak diabaikan adalah motonya: Kenyamanan dan kepuasan penumpang adalah merupakan tujuan kami.

Sebagai penumpang, di pelabuhan itu saya sungguh tidak puas. Tak ada tempat untuk duduk di ruang tunggu, karena penuh. Padahal ibu saya saat itu sedang tidak sehat. Ia perlu duduk. Tidak ada petugas yang mengatur penumpang di gerbang masuk ke dermaga. Eh, tapi di balik gerbang itu, ada - saya sempat menghitung - sedikitnya delapan orang. Ada yang tampaknya masih menikmati suasana lebaran. Ada yang sibuk dengan radio panggil. Ada yang memeriksa tiket, selebihnya tak jelas melakukan apa.

Oh, ya yang lebih karikatural lagi, tepat di atas saya berdiri ada papan besar berisi bagan alur bagaimana saya bisa mengajukan keberatan jika ada pelayanan yang tidak memuaskan. Alih-alih marah, saya justru terhibur dengan kelucuan itu.

*

Visi dan misi, menurut saya haruslah jelas dan sederhana. Kenapa? Karena itulah gambaran cara berpikir dari mereka yang menyusun visi dan misi itu. Sederhana karena dengan demikian siapa saja mudah mencocokkan apakah yang dilakukan setiap elemen di organisasi itu pas, melenceng atau malah melecehkan visi dan misinya sendiri. Organisasi yang gagal merumuskan visi dan misinya, juga gagal melaksanakan visi dan misinya itu adalah organisasi yang kiamat. 

Ada organisasi bisnis, pelayanan publik, pemerintahan, yang seperti menyembunyikan visi dan misinya dari publik yang harus dilayaninya.Visi dan misi harusnya menjadi janji baik kepada pihak yang dilayani dari mereka yang melayani.  Itu sebabnya, visi misi harusnya menjadi janji yang harus benar-benar bisa ditepati. Jika tidak, pasti ada yang salah, dan itu harus diperbaiki.

Coba baca lagi misi dari rumah sakit yang saya paparkan di atas. Misinya jelas arahnya, kepada pasien, kepada karyawan, kepada para dokter, dan terakhir yang tak disebutkan di atas kepada komunitasnya.  Visinya jelas, ringkas, dan tidak mengawang-awang.  Ketika di tingkat pelaksanaan itu bisa diwujudkan maka visi dan misi itu menjadi berbunyi, tidak kopong atau sekadar omong kosong. ***
[Read More...]


[kolom] Atas Nama Bangsa Indonesia….





JEPANG
menyerah kepada sekutu. Hatta sudah mendengar perkiraan itu beberapa hari
sebelumnya saat ia berada di Singapura. Sjahrir pada hari itu mendengar
beritanya disiarkan oleh radio.  Di
Jakarta, pemerintah pendudukan Jepang sudah membentuk Panitia Persiapan
Kemerdekaan (PPK). Lewat lembaga ini Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi
Indonesia. Sukarno ketuanya. Tapi, kekalahan Jepang datang leih cepat dari yang
diperkirakan.

Sjahrir melihat peluang lain: kemerdekaan Indonesia harus
segera dinyatakan lewat radio ke seluruh dunia oleh Sukarno sendiri sebagai
pemimpin rakyat atas nama rakyat Indonesia. Sjahrir menganggap jika kemerdekaan
terus diupayakan lewat PPK sama saja bangsa ini bergantung pada Jepang. 
Hatta setuju bahwa kemerdekaan Indonesia harus dinyatakan
sesegera mungkin. Tapi ia tak setuju pada ide Sjahrir agar Sukarno bertindak
langsung diluar PPK. Ia juga yakin Sukarno tak akan setuju dengan jalan  itu.
Hatta dan Sjahrir kemudian menemui Sukarno. Usulan Sjahrir
dibentangkan. Benar saja, Sukarno menolak. Ia 
merasa tidak berhak bertindak sendiri, karena hak itu adalah tugas
Panitia Persiapan Kemerdekaan di mana dia menjadi ketuanya.
"Alangkah janggalnya di mata orang, setelah kesempatan
terbuka untuk mengucapkan kemerdekaan Indonesia, aku bertindak sedri melewati
Panitia Persiapan Kemerdekaan yang kuketuai," kata Sukarno.
Langkah terpenting saat itu adalah memastikan benarkah
Jepang telah menyerah kepada tentara sekutu. Berdua, Sukarno dan Hatta menemui
Admiral Maeda. Semenit lamanya sang admiral terdiam, sebelum menjawab bahwa
memang demikianlah yang telah secara resmi diumumkan oleh sekutu.
"Akan tetapi kami belum memperoleh berita dari Tokyo.
Sebab itu berita tersebut belum kami pandang benar. Hanya instruksi dari Tokyo
yang menjadi pegangan kami," kata Admiral Maeda.
Tapi itu sudah cukup bagi Hatta dan Sukarno: mereka yakin
Jepang sudah kalah. Kepada Sukarno,  Hatta – seorang adminitratur dan penata organisasi
ulung itu -  mengusulkan besok harinya,
tanggal 16 Agustus 1945 segera digelar rapat PPKI. Jam 10.00.  Tempat Hotel des Indes. Peserta rapat adalah
seluruh anggota PPK yang saat itu sudah lengkap semua berada di Jakarta.
Sukarno dan Hatta pun segera pulang ke rumah masing-masing.
Kabar takluknya Jepang merebak cepat.  Sore tanggal 15 Agustus itu dua pemuda yaitu
Subadio Sastosatomo dan Soebianto Djojohadikoesoemo, datang ke rumah Hatta.
Keduanya mendesak agar Hatta meminta kepada Sukarno untuk segera mengumumkan
kemerdekaan Indonesia, seperti usulan Sjahrir, dan mengabaikan upaya
kemerdekaan lewat PPK. Hatta tetap pada pendapatnya, lagi pula sebuah rapat
penting besok pagi sudah disiapkan.
Ketidaksabaran dan harga diri meninggi di kalangan pemuda saat
itu. Malam harinya ketika Hatta mengetik naskah Proklamasi  (bukan naskah yang kita kenal saat  ini) yang akan dia usulkan dalam rapat PPK
esok harinya, Mr Subardjo datang ke rumahnya. 
Hatta diajak ke rumah Sukarno yang sedang dikerumuni pemuda yang mendesak
agar ia memproklamasikan segera kemerdekaan  malam itu juga.
Sukarno tetap berkeras mengikuti proses yang sudah
disiapkan.  Jepang besok pagi, 16
Agustus, akan membuat pernyataan memerdekakan Indonesia.  Setelah itu, PPK akan bersidang melaksanakan
kemerdekaan tersebut, mengesahkan rencana Undang-undang Dasar yang sudah
disiapkan oleh Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan, memilih kepala
pemerintahan, dan kemudian mengatur strategi untuk mempertahankan kemerdekaan
agar tak direbut kembalil oleh Belanda yang akan datang membonceng sekutu.
Perdebatan memanas. 
Wikana, salah seorang pemuda meminta dengan ancaman, “Apabila Bung Karno
tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu mala mini juga, besok pagi
akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah.”
Sukarno naik darah. Ia datangi Wikana, dan sambil menunjuk
lehernya sendiri  ia menghardik. “Ini
leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga,
jangan menunggu sampai besok.”
Sejarah bangsa ini kemudian mencatat sebuah tindakan gegabah
pemuda  yang menggagalkan rapat PPK
tanggal 16 Agustus 1945. Subuh itu Sukarno dan Hatta diculik, dibawa ke
Rengasdengklok.  Sukarno tak mau menuruti
keinginan para pemuda. Para pemuda itu juga tak ingin ada rapat PPK, karena
jika itu terjadi maka kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Jepang. Begitu
mahalnya sebuah harga diri bangsa tertanam di dada para pemuda itu.
Skenarionya adalah: jam 12.00 siang itu, 15 ribu rakyat akan
menyerbu kota, bersama mahasiswa dan Peta melucuti Jepang. Sebuah skenario
nekad dan berdarah!  Di Rengasdengklok  Sukarno dan Hatta dalam jagaan para pemuda
meneruskan  pimpinan Pemerintah Republik
Indonesia.  Upaya Hatta mencegah
penculikan itu sia-sia.
“Itu sudah menjadi keputusan kami semua dan tidak dapat
dipersoalkan lagi. Bung ikut saja bersama Bung Karno pergi ke Rengasdengklok,”
kata Sukarni.
Tak ada kecamuk lain dalam pikiran Hatta kecuali bahwa
pernyataan kemerdekaan Indonesia gagal diselenggarakan.  Rapat PPK tak terselenggara. Padahal itulah
rapat terpenting, dan merupakan puncak dari rangkaian rapat sebelumnya
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.  Dan
di Jakarta tak terjadi apa-apa. Tak ada rakyat yang melucuti tentara Jepang.
Malam itu, pukul 20.00 Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta.
 Suasana serba tak pasti, tapi langkah
cepat dan tepat diamil. Seluruh anggota PPK yang batal rapat, dan masih
menginap di Hotel des Indes dibawa semua ke rumah yang dipinjamkan oleh Admiral
Maeda.  Rapat dimulai pukul  00.00, pada jam itu, pihak hotel melarang
mereka menggelar kegiatan apapun termasuk rapat.  Hari sudah masuk ke tanggal 17 Agustus 1945.  “Itu kewajiban saya yang mencintai kemerdekaan
Indonesia,” kata Admiral Maeda yang merelakan rumahnya dipinjamkan untuk rapat
PPK.
Tapi, lain Maeda lain Nishimura. “Apabila rapat itu
berlangsung tadi pagi, kami akan bantu. Akan tetapi, setelah tengah hari, kami
harus tunduk kepada perintah sekutu dan tiap-tiap perubahan status quo tidak
dibolehkan. Jadi,s ekarang rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ini
terpaksa kami larang!” Tapi, kali ini Sukarno dan Hatta tak terhalang.  Maeda diam-diam meninggalkan rumahnya
sendiri. Di rumah itu, kira-kira 40-50 orang menggelar rapat mahapenting:  bagaimana menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Di jalan di luar rumah para pemuda menonton dalam ketegangan masing-masing
menunggu hasil pembicaraan.
Di dalam rumah, setelah beberapa saat pembicaraan, penegasan
sikap terhadap penolakan Jepang yang tak mau lagi mengakui kemerdekaan
Indonesia, Sukarno mengajak Hatta ke sebuah ruang tamu kecil bersama Subardjo,
Soekarni, dan Sayuti Melik. Di ruang itulah teks  proklamasi dirumuskan.
“Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkasa itu sebab
bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama.
Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muda singa lengkap yang sudah
hadir di ruang tengah,” kata Sukarno.
Hatta  berkata kepada
Sukarno, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku
mendiktenya.”  Mula-mula Hatta  memetik kalimat pertam dari akhir aline
ketiga rencana Pembukaan UUD:  Kami bangsa Indonesia  dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.  Lalu bagaimana revolusi kemerdekaan itu
dilaksanakan? Hatta mendiktekan kepada Sukarno: 
Hal-hal yang mengenai pemindahan
kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo
yang sesingat-singkatnya.
Di depan sidang, subuh itu, Sukarno membacakan rumusan
proklamasi itu berulang-ulang, dan berhati-hati. Beberapa kali dia bertanya
dapatkan rumusan itu disetujui? Setelah gemuruh kata setuju dikumandangkan
rapat pun ditutup dengan satu tambahan kesepakatan atas usulan Sukarni agar hanya
Sukarno dan Hatta yang menandatangani naskah itu atas nama bangsa Indonesia.
Subuh itu juga, kepada Burhanuddin  Diah, salah seorang pemuda wartawan yang
hadir, Hatta meminta agar teks proklamasi itu diperbanyak dan dikawatkan ke
seluruh dunia mana saja yang mungkin dicapai dengan teknologi komunikasi saat
itu.  Teks itu dibacakan pukul 10.00 17
Agustus 1945, di halaman rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, di hadapan
rakyat  Indonesia. ***
[Read More...]


The Magic of Stage



(Catatan Seorang Aktor Karbitan yang Langsung Kapok)

BUTET Kartaredjasa menyebutnya The Magic of Stage, Sihir Panggung. Saya merasakannya semalam, dan saat saya tuliskan kolom ini, saya sedang dalam persiapan untuk merasakannya lagi di malam kedua.

Ya, saya menambah satu pengalaman hidup lagi: jadi aktor – dan buru-buru harus ditambah ‘karbitan’. Ya, saya aktor karbitan. Saya dapat peran kecil di pentas Mak Jogi – Hikayat Jenaka untuk Indonesia. Saya menjadi penyair Kerajaan Sepancungan Daun bernama Raja Ali Hasan.  Saya harus menelepon adik lelaki saya yang semasa mahasiswa di kampusnya dahulu ia menjadi aktor, memimpin teater, menulis naskah dan menulis naskah.  Sialnya, dia hanya tertawa terbahak-bahak, sama sekali tak mau memberi saya sekadar tips. Sialan. 



“Kalau dulu ada Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12, sekarang di kerajaan ini ada Raja Ali Hasan dengan Gurindam ST 12,” kata Juru Cerita dan asistennya, memperkenalkan apa peran saya kepada penonton.

Betul, ini hanya peran kecil di tengah lesatan-lesatan terang para bintang besar: Tom Ibnur dan Didik Nini Thowok, keduanya dua maestro tari Indonesia; Hendri Lamiri, pemain biola dengan liuk badan dan sayatan anggun yang lagu-lagunya bersama grup Arwana sangat saya gemari; Agus PM Toh, pendongeng dari Aceh yang sepanjang tahun punya jadwal tetap mendongeng dan mengajar di berbagai Negara di Eropa; Trio Gam yaitu Gareng, Joned dan Wisben, komedian paling dagel dari Yogyakarta; dan Efendi Gazali, pengajari ilmu komunikasi, wabilkhusus komunikasi politik yang integritas kecendekiawanannya tidak terbeli oleh penguasa. 

Saya tampil di dua adegan saja, dari 14 adegan lakon tersebut. Peran saya ya, tak jauh-jauh dari sosok penyair, berpantun, bersyair, karena itu saya anggap tidak berat. Tidak berat? Ternyata saya salah besar.  Bahkan untuk tampil selintasan pun, kita harus bersiap seakan ikut dalam seluruh bagian adegan. Karena peran kecil kita menjadi bagian dari semua rangkaian pertunjukan tersebut.

Untuk dipentaskan selama dua malam, tim produksi harus menyewa panggung untuk empat hari. Dua harinya dipakai untuk latihan. Itu sebabnya, memproduksi sebuah pertunjukan teater bukanlah sesuatu yang murah.  Butet dan kawan-kawan beruntung dapat menggandeng Djarum yang sejak 1972 punya program Apresiasi Budaya, juga banyak sponsor lain. Apakah itu cukup? Tidak. “Setiap kali pentas ibaratnya saya harus nombok dengan menjual satu Avanza,” kata Butet. Wah!

Mak Jogi adalah bagian dari rangkaian produksi teater Indonesia Kita yang digarap oleh satu tim kreatif yang digagas oleh raja monolog Butet Kartaredjasa, Djadug Ferianto, dan Agus Noor. Mak Jogi adalah produksi keempat, setelah Laskar Dagelan, Beta Maluku, dan Kartolo Mblalelo. Semuanya digelar di tempat yang sama yaitu Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bagaimana saya bisa terlibat di pentas itu? Karena jaringan pertemanan. Inilah keampuhan jaringan. Bagaimana saya bisa berkawan dengan Butet? Djadug? Dan Agus Noor? Karena kami berada di satu ranah yang sama: kesenian. Lalu pertemanan itu dimudahkan lagi oleh berbagai media sosial, seperti Twitter (tanggal 26 Juli kemari ada satu akun pengingat yang menggamit saya, menyebutkan pada hari itu usia akun twitter saya @haspahani tepat empat tahun).  Saya bisa menyapa akrab mereka, mengucapkan selamat pagi, seperti dua orang saling bertetangga dan berbincang lewat jendela yang terbuka.   

Maaf, saya tidak sedang hendak mengangkuhkan luas jejaring pertemanan saya – yang sebenarnya tidak luas-luas amat. Saya hanya ingin berbagi pendapat bahwa jejaring seperti itu bermanfaat, dan kita, siapa saja kita, bisa membangunnya.


*

Mak Jogi adalah pertunjukan dengan roncean banyak cabang kesenian. Ada tarian yang dibawakan dengan memukau oleh penari-penari dari IKJ, dan fragmen cerita. Latihan masing-masing bagian itu terpisah-pisah, terpenggal-penggal. Ini kesulitan pertama saya sebagai aktor karbitan. Susah membayangkan bagaimana kelak pertunjukan itu dirangkai.

Latihan untuk pertama, tidak diikuti oleh seluruh pemain. Ini kesulitan lain buat saya. Bagaimana nanti bentuk adegannya ketika seluruh pemain hadir lengkap. Hanya beberapa jam sebelum pertunjukan yang sesungguhnya pukul 20.00 WIB, tepatnya pukul 14.00 WIB, percobaan menyatukan seluruh adegan digelar. “Ini tidak akan dipotong. Kita ingin tahu durasi pertunjukan,” kata Djadug. 

 Maka, mainlah kami dengan segala kekurangan dan salah di sana-sini. Dialog lamban, gerak pemain tumpang-tindih, improvisasi dialog yang berulang-ulang, dan durasi yang molor. “Dua jam 24 menit. Masih molor. Harusnya dua jam saja,” kata Djadug dengan suara menggelegar.

Butet dan Agus Noor lalu mengevaluasi. Mereka memberi koreksi orang per orang. Saya misalnya. Dianggap kurang flamboyan di panggung layaknya seorang penyair. “Coba bayangkan Rendra!” kata Agus Noor mengarahkan saya. Butet kepada kami yang tampil dalam satu adegan mengingatkan agar kami menjaga membangun emosi dari adegan ke adegan. Kalau tidak ada emosi, kata Butet, tidak ada dinamika. Kalau tidak ada dinamika, tak ada irama, kalau taka da irama tak muncul karakter. Ah, pelajaran singkat tentang berlakon dari maestronya. Catat!

“Tapi, jangan terlalu cemas. Tetap santai, tapi konsentrasi saja ke peran masing-masing. Nanti di panggung dengan reaksi penonton pasti semuanya keluar potensinya,” kata Butet.  Maka, saya yang amatir ini sampai menit-menit  terakhir menjelang naik panggung masih belum yakin apakah bisa berperan dengan baik atau tidak.   

Lantai panggung Graha Bhakti Budaya TIM bukanlah asing buat kaki saya. Bersama Husnizar Hood, Ramon Damora, Peppy Chandra, dulu, di tahun 2007, kami sama-sama tampil baca puisi di tempat yang sama.  Tapi, baca puisi bersama-sama yang masing-masing tampil personal, berbeda dengan teater yang menuntut peran kita sekecil apapun harus menyatu dengan seluruh bagian.

Hasilnya? Sebagaimana rangkaian Indonesia Kita sebelumnya,  pentas Mak Jogi malam pertama sukses. “Kalian luar biasa!” kata Butet usai pentas di belakang panggung.  “Ini yang saya bilang The Magic of Stage. 50 persen energi aktor terserap dari penonton,” katanya. 

Saya membayangkan mungkin begitulah caranya – dengan sihir panggung itu - Butet menaklukkan naskah, menguasan panggung, dan memukau penonton saat ia tampil bersama Teater Gandrik, dan terutama saat dia sendiri bermonolog. Monolog artinya tampil sendiri selama dua jam. Aduh, bagaimana caranya menghafal naskah untuk tampil selama dua jam itu? Saya sendiri hanya tampil dengan dialog pendek dan empat pantun serta dua bait syair minta ampun susahnya menghafal.


*

Dan akhirnya saya harus katakana: saya kapok main teater. Saya kapok jadi aktor karbitan. Teater adalah muara besar dari semua cabang seni. Karena itu melelahkan sekali jika kita terlibat di situ, lelah jiwa raga. Jiwa dan raga saya tidak di situ. Saya tidak membenci teater, saya justru setelah kekapokan ini akan sangat menghargainya, dan mencintainya dengan kadar yang berlipat-lipat. I love you, teater! ***





[Read More...]


[kolom] Bertemu Teman Joger di Luwus



KALAU mau ke Kuta, kami dihadang kemacetan yang parah. Kata kawan saya, kalau mau ke Joger, kami punya pilihan selain Kuta, yaitu Luwus. Ini nama desa, di jalan raya dari Denpasar ke arah Bedugul. Lho? Bukannya Joger hanya dan hanya dijual di Kuta? Ini bukan Joger tapi temannya. Nama tokonya memang: Teman Joger. Lengkapnya tempat penyaman Joger.

Maka, petang itu melajulah kami ke Luwus. Jalanan bagus dan mulus. Tak ada kemacetan. Luwus benar-benar sebuah desa. Di kiri dan kanan jalan membentang sawah, dengan genangan air yang memantulkan rembang cahaya petang, dan dengan cara yang sederhana seperti itu menciptakan pemandangan senja yang menakjubkan.




Saya ragu, benarkah Joger buka cabang? Kalau benar, benarkah cabangnya dibuka di tempat seterpencil dan tidak meyakinkan seperti ini? Tapi, kapasitas teman baik saya, yang dengan ikhlas menjadi sopir pribadi dan pemandu saya tidak bisa saya ragukan.

Hampir malam, kami sampai di depan toko Teman Joger. Dalam hati saya bergumam, akhirnya sampai juga ke toko yang terkenal ini, meskipun cuma 'temannya'. Ini adalah toko yang memang besar, tapi ya biasa saja, tapi ini toko menjual barang-barang tidak biasa dengan cara yang tidak biasa. Saya ingin kesini, hendak melihat - membuktikan sendiri - ketidakbiasaan itu.

Tak ada bangunan apa-apa di sisi kiri kanannya. Seorang pegawai sudah hendak menarik gerbang masuk kendaraan. Ia melambaikan tangan, menahan masuk kendaraan kami. Seorang lelaki muda, gemuk, berkacamata, dengan celana pendek, berdiri seakan menyambut tamu terakhir: kami. "Toko sudah tutup!" kata si pegawai. Kawan baik saya lantas bicara dengan si lelaki berkacamata. Tak lama kemudian gerbang dibuka lagi. Kendaraan kami masuk.

"Itu anaknya Mister Joger," kata teman saya. "Dia yang punya toko ini." Kami benar-benar tamu terakhir. Di dalam toko saya benar-benar sendirian, memilih kaos produksi pabrik kata-kata yang terkenal di dunia itu, dilayani pegawai jaga yang sudah bersiap pulang, dan kasir yang menunggu untuk tidak mematikan mesin kasir.

"Baik sekali ya, pelayanannya. Dia tadi kasihan sama kita. Sudah jauh-jauh datang, kalau tak sempat belanja kan kecewa," kata kawan saya. Sementara saya belanja, kawan saya bicara dengan si pemilik toko si anak Mister Joger alias Joseph Theodorus Wulianadi.

*

Ya, Joger adalah toko biasa, denga produk yang tidak biasa. Produk utamanya memang cuma kaos oblong alias T-Shirt. Yang membuat tidak biasa adalah desainnya. Selalu ada kata-kata unik yang bikin senyum.

Saya belanja amat terburu-buru tapi tak bisa menahan senyum. Toko Joger juga ditata dengan cara yang tidak biasa. Di dekat kasir ada tulisan: ini kasir bukan kasur. Juga stiker besar: belanja tidak belanja tetap thank you. Ada lagi: Diskon khusus untuk yang hari ini berulang tahun, mohon buktikan degan menunjukkan KTP.

Dan yang paling lucu: Diskon 100 Persen untuk pengunjung yang tidak belanja! Main-main? Kesannya begitu, tapi itulah Joger, dan itulah yang bikin namanya merek yang kuat.

Lihat juga bagaimana tata letak toko. Kaos anak-anak dipajang  di bagian sendiri dengan pintu yang hanya setinggi perut. Ada tanda di atas pintu itu: hanya untuk rakyat kecil. Saya harus setengah merangkak untuk masuk ke ruang itu. Sialan! Ini pengalaman kecil, 'mengesalkan', tapi rasanya tak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Keunikan-keunikan kecil lain ditebar di kantong belanja, cara menjelaskan di mana tokonya berada, dan bahkan sampai ke tempat parkir. Pegawai Joger pun ditandai dengan stiker VIP (Very Iseng - bukan important, huh! - Person).

"...semenjak 1987, Joger (berdiri tahun 1981) tidak lagi profit oriented tetapi happiness oriented," kata Mister Joger pada suatu kesempatan, mengungkap kiat suksesnya. Keuntungan tak lagi jadi tujuan, tapi kebahagiaanlah yang ingin dicapai. Sejak tahun itu pula, tepatnya pada tanggal 7 bulan Juli, Joger memutuskan hanya punya toko di Kuta, yang alamatnya sejak dulu memang tanpa nomor.

Kata-kata (ia kemudian menyebut toko kaosnya sebagai pabrik kata-kata) dan gambar lucu, adalah sumber kebahagiaan. Orang menggemari kaos Joger karena bahagia dan bangga memakainya. Pembeli bahagia, dan pemilik toko bahagia karena bisa membahagiakan pembeli (dan meski tak jadi tujuan, keuntungan pun dikantongi).

Kebahagiaan, sepertinya menjadi dasar filsafat bisnis Joger. Lihat saja dari mana nama itu berasal. "Jo" diambil dari Joseph nama si pendiri, dan "Ger" (baca dengan "e" seperti pada "becak") penggalan dari nama Gerrard, sahabat kuliah Joseph di Jerman) yang menghibahkan uang ketika Joseph menikah. Semangat untuk mengabadikan dan menghargai persahabatan itu ternyata mempermulus segala hal: bisnis lancar, nama Joger pun menjadi brand kuat untuk produk kaos kreatif.

Siapa sebenarnya orang di balik desain-desain Joger yang "jelek" ini? Saya kira, sudah ada keterlibatan anaknya yang senja itu dengan kearifannya mempersilakan kami belanja meski jam tutup toko sudah lewat. Tapi, seperti di akui oleh Joseph eh Joger, di pabrik kata-kata itu ada lima desainer. "Tim kreatifnya terdiri dari lima orang. Dan untungnya kelimanya ada dalam diri saya, sehingga si Joger tidak pernah terjadi keributan," katanya. Ah, dasar!

Joseph pulalah yang memberi gelar sendiri kepada dirinya BAA, BSS. Ini saya kira semacam sindiran kepada masyarakat kita yang amat gemar menderetkan gelar akademis, meskipun kerja dan karyanya mungkin tak sepadan dengan deretan gelar itu. Apa itu BAA dan BSS? Bukan Apa-Apa, dan Bukan Siapa-Siapa.

Gelar BAA dan BSS itu ada sejarahnya. Suatu ketika Joseph menyebut istilah dispromotion, sebagai satu istilah taktik berbisnis yang ia perkenalkan. "Dispromotion itu adalah konsep berpromosi yang tidak bermaksud untuk menaikkan jumlah omzet, karena saat ini jika ada orang yang ingin membeli kaos Joger dalam jumlah banyak selalu saya tolak," katanya.

Eh, ada orang yang bertanya, apa kapasitas ilmiah Joseph kok berani-beraninya memperkenalkan istilah itu. Karena kesal, dia menjawab, "Saya bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa." Jawaban yang kemudian menjadi gelar "resmi" yang ia sematkan sendiri. Ah, dasar pabrik kata-kata.[]
[Read More...]


[Kolom] Dari 25 Ekor Kucing,Lahir Seekor Garfield






Pencinta kucing suka Garfield,
Pembenci kucing juga suka dia.



KAUS kelas kami waktu SMA dulu bergambar karakter komik Garfield, si kucing gemuk berbulu jingga, dan tampangnya menggemaskan. Sayalah  yang dipercaya kawan-kawan sekelas merancang kaus itu.  Eh, bukan dipercaya, saya sebenarnya sedikit otoriter, karena saya waktu itu ketua kelas.  Tentu saja waktu itu saya tak mengerti soal hak cipta, tapi saya suka Garfield, kawan sekelas saya suka juga. Rasanya, itulah kaus kelas paling keren dibandingkan dengan kaus kelas-kelas lain di angkatan kami dulu.


Saya mengenal Garfield di koran berbahasa Inggris yang dilanggani paman saya. Dia guru bahasa Inggris. Saya pada waktu SMA memang 'rakus' melahap apa saja.  Termasuk mencari rujukan tentang kartun dan komik strip, karena saat itu saya bekerja di surat kabar lokal, membuat komik strip. Nama serial komik strip saya: Ketupat.

 Pada saat yang sama, saya juga sangat menyukai Peanuts, komik strip karya kartunis kaya-raya Charlie M Schulz - saya entah kenapa, merasa amat kehilangan ketika beliau meninggal pada tahun 2000 lalu - dengan tokoh sekawanan anak-anak, Charlie Brown CS, dan anjingnya yang kemudian menjadi lebih terkenal daripada tuannya: Snoopy.  Ketupat saya, amat dipengaruhi oleh Peanuts.

Garfield - seperti halnya Peanuts - adalah contoh nyata tentang buah lebat yang bisa kita petik jika kita menanam benih keyakinan, kerja keras, dan kreativitas.  Jim Davis - begitulah James Robert Davis mencantumkan nama akrab di setiap helai karyanya  - menderita asma sewaktu masih kanak-kanak. Karena itu ia banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Penyakit ssmanya disebabkan alergi pada bulu hewan. Harap maklum, ayah dan ibunya adalah keluarga peternak. Rumah peternakan mereka dikepung oleh kawanan sapi, kuda,  dan di dalam rumah - ini bukan hewan ternak - mereka memelihara 25 ekor kucing kampung.

Apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil - dengan seorang saudara kandung yang sebaya - ketika harus berlama-lama di dalam rumah? Ibunda Jim memberinya pensil dan kertas.  Maka menggambarlah Jim.  Sebagaimana layaknya gambar anak-anak, Jim menggambar dengan anatomi yang tak becus. Ia melihat sapi, ia menggambar sapi. Tapi gambarnya tak mirip sapi. Jim kecil menambahkan tulisan: Ini sapi.  Sesuatu yang sepele. Tapi, dari peristiwa kecil itu, Jim teryakinkan bahwa ketika gambar dan teks dipadukan lahir sebuah kekuatan.  Dan itulah prinsip komik.



Sejak itu, dia tahu dia ingin jadi apa: dia ingin jadi kartunis. Jim kecil pun tak berhenti menggambar. Ia menggambar di mana saja, dinding, lantai, tangga, di mana saja.  Berkah lain, karena betah menggambar di dalam rumah, asmanya pun berangsur pulih.

Selepas SMA, Jim masuk kolese, jurusan seni.  Di situ bakatnya semakin terasah, karena fasilitas pendidikan dan buku rujuan yang lengkap.  Di sana ia juga belajar drama. Di sini kita bisa belajar, betapa sarana pendidikan yang lengkap, pengajar yang baik, bisa memunculkan potensi maksimal dari anak-anak, yang kita tak tahu kelak ia akan jadi sebesar apa.

Selepas kolese, Jim  magang di sebuah biro iklan.  Niatnya cuma satu: bisa menjadi asisten Tom K Ryan, kartunis yang saat itu sudah berhasil dengan serial komik strip Tumbleweeds. Jim mengerjakan apa saja, menyapu lantai studio, mengepel, dan pekerjaan remeh, seperti menggambar latar dan menulis teks kartun.  Pelajaran lain dari Jim, tak cukup belajar teori menggambar di perguruan tinggi, pengalaman langsung justru lebih banyak memberi pelajaran dan kelak menentukan keberhasilan Jim sebagai kartunis.

Jim pun memulai komik stripnya sendiri. Ia langsung menemukan Garfield? Tidak.  Ia membuat kartun dengan tokoh kutu, Gnome Gnates. Kartun ini gagal, meskipun sudah sempat lima tahun ia berusaha untuk membesarkannya.

"Kartunmu lucu. Gambarmu  bagus. Tapi, kutu? Siapa sih yang suka kutu?" kata seorang editor di sebuah perusahaan sindikat kartun. Jim menyadari kekeliruannya. Ia banting setir mencari karakter lain. Jim tidak putus asa, ia tahu, tidak ada keberhasilan yang sekali jadi. Tapi, itu tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja keras.

Ia mengamati banyak kartun yang berhasil tokohnya anjing. Dan waktu itu tak ada satupun tokohnya kucing. Ia pun mulai merancang, dan Garfield baru tercipta setelah dua tahun lamanya ia mereka-reka. Ia memanggil kembali kenangan pada 25 ekor kucing yang dulu hidup bersamanya di peternakan. Nama Garfield sendiri ia pinjam dari nama kakeknya. Karakter si kakek pun dia curi: ya sikap keras kepalanya itu.  Awalnya si kucing pemalas, sarkastik, sok pintar, sok filosofis itu, hanya tokoh pendamping si tokoh utama: Jon Arbukle, kartunis berwajah culun.

Menyadari potensi kebintangan pada diri Garfield, Jim memberi peran besar pada si kucing. Kartunnya langsung disambar oleh perusahaan sindikasi kartun yang sejak pertama kali terbit pada tanggal 18 Juni 1978 - wah, bulan ini sudah 33 tahun usia kemunculannya -  Garfield langsung tampil di 41 koran di Amerika,  di kota Boston, Dallas, dan Chicago. Jalan kesuksesan membentang di hadapan Jim yang saat itu sudah  -  atau baru?  -  berusia 33 tahun.

Popularitas Garfield lekas melejit. Pada tahun 1982, komik Garfield terbit di 1.000 surat kabar. Tahun 1987, si kucing gendut itu tampil di 2.000 surat kabar. Dan saat ini, terbit di 2,600 surat kabar di seluruh dunia. Guiness World Book of Record mengganjarinya sebagai komik strip tersindikasi paling banyak di dunia. Dibaca oleh - ditaksir secara kasar 263 juta orang setiap hari, termasuk saya yang membaca lewat lembar "Life" di surat kabar negeri Jiran The Strait Times yang saya langgani lewat kantor.

Ada satu peristiwa yang memicu - dan meyakinkan Jim - betapa dicintainya Garfield oleh para pembacanya. Beberapa bulan setelah terbit, sebuah surat kabar di Chicago menghentikan pemunculan Garfield. Apa yang terjadi? 1,300 turun ke jalan, meluruk ke kantor surat kabar tersebut, marah akibat  dihentikannya komik strip itu.

Jim saat ini masih aktif menggambar. Kini, pria yang bulan Juli tanggal 28 nanti tepat berusia 67 tahun itu -  mempekerjakan 50 tukang gambar, di bawah bendera perusahaan Paws, Inc.  Perusahaan ini memproduksi kartun, film, serial TV, dan yang mengurusi hak cipta dan bisnis pernak-pernik barang berlogo Garfield, di Albany, negara bagian Indiana.

Kalau kepadanya ditanya bagaimana caranya menjadi kartunis yang berhasil? Ia punya jawaban begini: "...membaca, membaca, dan membaca. Untuk menjadi seniman strip-komik kau harus jadi penulis yang baik. Menguasai seni menggambar penting, tapi kemampuan menulislah yang membentuk atau menghancurkan kamu. Belajarlah apa saja, dan seberapa bisa kamu belajar," katanya.

Itu saja? Belum cukup! "Menontonlah. TV, bioskop. Bergaullah. Cari kawan, dan kegiatan. Cobalah berbagai alat gambar yang berbeda dan coba berbagai gaya. Di atas semuanya itu - milikilah sesuatu yang ingin kau sampaikan, sesuatu yang unik dan berbeda - sesuatu yang "khas" kamu," katanya.***
[Read More...]


[Kolom] Ketut Namanya, Ia Kawan Saya



DARI dia saya belajar banyak tentang keberanian, kerendahhatian, ketulusan, kesetiakawanan, dan toleransi.  Tanpa khotbah, tanpa ceramah. Ia mengajarkan dengan perilakunya. Saya belajar dari apa yang dengan rendah hati ia kerjakan.

Kami berkawan sejak saya bekerja di sebuah perusahaan kehutanan di utara Kalimantan, dia sudah lebih dahulu bekerja di situ.  Saya staf junior, dia manajer senior, meski kami berbeda bagian. Saya di bagian penelitian dan pengembangan, dia di departemen teknik sipil.  Saya masih lajang yang sedang  sangat ketat menabung untuk biaya menikah, dia sudah beranak seorang. Perkawanan kami terjalin karena di kota itu kami sama-sama pendatang. Tak ada sanak tak ada saudara.


Kami merasa senasib dan meski tentu saya tak sebanding dengan kekayaan pengalamannya, kami sering menemukan kesamaan.  Dia sejak kecil hidup terpisah dari orangtua. “Saya tinggal di rumah nenek,” katanya.  Di situ, dia sudah belajar mandiri.  Menimba dan memikul air, memelihara sapi, dan pergi sekolah belasan kilometer berjalan kaki.  Jejak-jejak kerja keras tampak memancar dari pribadinya. “Kalau saya cerita, istri dan anak saya bisa menangis,” katanya.  Tapi, ia mengakui, ada  satu perilaku “buruk” yang ia punya sejak kecil:  ia suka menyabung ayam.

“Makanya bapak malu dan saya ‘diusir’,” katanya. Dia dikirim untuk sekolah SMA di Lombok, menyeberang ke timur dari Bali.  Selama di pulau itu, kecuali jika ada upacara adat di Karangasem, kampungnya di Bali, dia tak pernah pulang. “Kalau libur saya main, sampai ke Timor,” ujarnya.

Tamat SMA dia kembali ke Denpasar dan kuliah di sana dengan biaya yang ia cari sendiri.  Tamat kuliah, dengan gelar sarjana ia menaklukkan Jakarta. Ikut banyak proyek membangun gedung-gedung besar (ia menyebut beberapa gedung yang menjadi landmark ibukota -  dan lama tidur di pura, di Taman Mini Indonesia Indah.  “Saya ini avonturir,” katanya, dengan pengucapan “t” khas lidah orang Bali.  Semangat pertualangan itulah yang membawanya sampai ke Kalimantan dan mempertemukan kami.

*

Ada masa-masa ketika krisis menghantam juga perusahaan tempat kami sama-sama  bekerja itu.  Saya sudah menikah, dan tak melihat ada masa depan lagi di perusahaan itu.  Anggaran litbang tak pernah lagi turun. Saya nyaris tak punya sesuatu untuk dikerjakan, dan membantu bagian lain.

Mungkin sayalah orang pertama yang berhenti bekerja di sana. Lagi pula, saya kemudian menyadari bahwa kerja di hutan bukanlah bidang saya. Saya ingin kembali menjadi wartawan. Ketika awal bulan lalu, saya bertemu dia di Denpasar, saya baru tahu, dialah orang terakhir yang bertahan sampai perusahaan itu benar-benar tutup.

“Waktu itu saya merangkap banyak kerjaan. Manajer keuangan, manajer personalia, manajer umum. Semua mengundurkan diri,” katanya. Dia bertahan, dan itu artinya dia harus menghadapi karyawan yang berdemo, kontraktor yang menagih bayaran pekerjaan, dan gugatan soal lahan dari penduduk asli di sekitar hutan.  Saya malu, sementara saya lebih dahulu “melarikan diri”, cari selamat sendiri, kawan saya ini justru memilih bertahan dan menyelesaikan satu per satu persoalan perusahaan sampai perusahaan tutup.

*

Di Bali, kampung halamannya, dia sempat mengelola koperasi. Ia besarkan koperasi itu hingga beranggota ribuan orang dan bisa memutar modal ratusan miliar.  Koperasi itu – akibat disangkut-sangkutkan dengan kepentingan politik banyak orang besar -  “diganggu” dengan alasan melanggar  undang-undang perbankan – tuduhan yang tak pernah bisa dibuktikan – koperasi itu digerebek, disita asetnya, dan penanganan kasusnya tak selesai, dan berlarut-larut.  Ia mundur.

“Padahal, ini koperasi dapat ISO sebagai bukti manajemen kami  baik,” katanya.  Ia kecewa dengan banyak hal di negeri ini.  Tapi ia tak pernah mau berhenti.  Ia tidak menyerah tapi memilih menyingkir dari pusaran masalah. Ia kemudian mendirikan perusahaan properti sendiri, menyewa ruang kantor, dan mengembangkan banyak usaha – dari cucian mobil, toko obat, sampai rencana membuka perkebunan kacang tanah - yang mempekerjakan banyak orang.

“Saya banyak kawan. Banyak yang percaya. Saya jaga kepercayaan orang lain,” katanya.   Selama bertamu di kantornya, saya ikut menemani dia bertemu dengan beberapa mitra yang percaya memberikan modal miliaran kepadanya, untuk  berbagai usaha.

*


Di Tarakan, kami sering berbincang soal masa depan republik ini.  Ini perbincangan orang yang peduli. Televisi sedang gencar menyiarkan kerusuhan demi kerusuhan di Jakarta.  Mei 1998. Di televisi kantor, kami sama-sama menonton Suharto saat penguasa 32 tahun itu berpidato, menyatakan berhenti.  Kami sadar tak akan bisa berbuat banyak, kecuali apa yang kami bisa lakukan dengan dua tangan kami sendiri. Tapi, setidaknya kami peduli.  Setidaknya kami menyadari apa perubahan besar yang sedang terjadi di negeri  ini.  Perusahaan kami, sejak awal sudah dijangkiti bibit penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.  Untuk mendapatkan lahan, si pemodal mendudukan salah satu anak Suharto menjadi komisaris, tentu dengan saham kosong.

*

“Oktober nanti, kami akan ke Tarakan,” katanya. Ia menyebut kota di mana perusahaan kami dulu beroperasi.  Di sana, rupanya ia punya “warisan”.  Ada penduduk setempat yang  menganggapnya sudah seperti anak sendiri.   Di Tarakan, yang kami sepakati tak ada ikan bakar dan bakso seenak yang ada di kota itu - setiap pagi si bapak angkat mengantarkan ikan atau udang segar.

Kelak, kawan saya  mengongkosi bapak angkatnya itu menunaikan ibadah haji.  Dia tak bisa datang melepas si  bapak angkat berangkat ke tanah suci. “Di sana mereka kenduri dan berdoa, saya di Bali berdoa juga dengan cara saya di sini. Pokoknya, pergi selamat, pulang selamat.  Kan begitu?” katanya.

 “Beliau sudah meninggal. Anak-anaknya minta saya datang karena ada wasiat dari Pak Gaek,” katanya menyebut nama orang yang ia bapakkan. Pak Gaek meninggalkan sejumlah sertifikat tanah, dan tanah itu tidak boleh dibagi sebelum kawan saya itu lebih dahulu memilih salah satunya.  Toleransi, kawan saya itu tidak sekadar mempercakapkannya. Ia benar-benar mengamalkannya.

*

Di Bali, dia menjadi pemandu wisata saya.  Di sela-sela Kongres SPS yang saya hadiri, kami mencuri waktu. Ia mengantar saya ke Sanur, ke cabang Joger di Luwus, dan ke Ubud, kecamatan yang paling terkenal di dunia.  Ia tunjukkan di mana tempat pengambilan gambar film “Eat, Pray, Love” yang dibintangi Julia Robert.  Kami menelusuri jalan-jalan ke puncak Ubud, dengan sawah-sawah tertata amat rapi di kiri-kanannya.  Sepanjang perjalanan saya dapat pelajaran tentang hal lain: betapa ia peduli dengan alam dan budaya.

“Kita sudah tua, apa yang terbaik bisa kita wariskan untuk anak cucu? Alam yang terjaga. Saya sekarang sedang bekerja untuk menyelamatkan mata air. Banyak yang salah dari cara pemerintah di Bali ini mengelola alam, terutama mata air. Padahal itulah sumber utama kehidupan. Kalau mata air rusak, semuanya pasti ikut rusak,” katanya.  Setidaknya, setiap minggu, dia akan mendatangi  satu mata air. Melihat keadaannya, mendata.  Jika ada yang salah di sekitar mata air itu, dia akan bergerak.

Anak lelakinya, yang bercita-cita jadi dokter, adalah penari Bali yang hebat. “Saya belikan satu set gamelan. Saya bahagia karena anak saya yang masih SMA itu mau mendalami budaya tradisional.  Saya tak menyuruh dia.  Tapi dia sadar, Bali ini kekuatan dan kekayaannya adalah budaya. Kalau tak ada yang meneruskan itu, Bali ini tak ada apa-apanya lagi,” katanya.  Kawan saya itu, sebut saja ia:  Ketut namanya. []





 

 

[Read More...]


[Kolom] Ia Memberdayakan 300 Pengrajin



SEBELUM ia membangun usahanya sendiri, enam tahun dia bekerja di bank, pada bagian kredit. Dengan masa kerja selama itu, tentu dia tahu seluk-beluk perbankan. Tapi dia sampai hari ini, tetap menjalankan bisnisnya sebagai “bisnis rumahan”, ia tak mau memakai jasa bank untuk mengembangkan usahanya.

Ia kenal dan dikenal dengan baik oleh kalangan bank di Bali. Ia nasabah yang baik, dan sudah banyak terima tawaran kredit. Ia tak pernah manfaatkan tawaran itu. Sebuah bank bahkan memberi fasilitas kredit siaga, sebesar Rp1 miliar. Dana sebesar itu dicatatkan atas namanya dan bisa dipakai kapanpun jika ia perlu. “Tak ada biaya, dan tak ada bunga.Kalau saya pakai, baru nanti kena bunga. Tapi, saya mau pakai buat apa?” katanya.





Pekan lalu dia menjemput saya di Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ini pertemuan pertama kali setelah berpisah tujuh belas tahun lalu. Kami kuliah di universitas yang sama, angkatan sama, jurusan yang sama. Ia tergolong tekun, pintar, rajin, dan bersama beberapa kawan ia diwisuda lebih dahulu daripada rata-rata kami. Sejak itu kami tidak pernah bertemu. Secara fisik, ia tak banyak berubah. Ia pun tetap saja sederhana seperti saya mengenalnya dulu. Ponselnya dari kelas yang harganya tak sampai Rp200 ribu. Saya yang nyaris tak ia kenali. “Kamu gemuk,” katanya. Ya, tentu saja, di tahun-tahun kuliah saya menu tetap saya: tempe sayur sepotong, nasih putih, kecap yang banyak (gratis), dan lalap plus sambal (gratis). Harganya waktu itu Rp350.

Sewaktu kuliah dulu, bersama Yana – yang kini jadi istri saya - kami sama-sama mengelola majalah jurusan. Humus namanya. Nama yang diambil dari kuliah Dasar-dasar Ilmu Tanah. Humus adalah bentuk akhir dari pelapukan bahan organik, di mana mineral-mineralnya bisa diserap dengan mudah oleh tumbuhan. Humus, secara organik menyuburkan tanah.

Ada malam-malam kami habiskan di rental komputer, mengetik naskah untuk majalah dan menata perwajahan halaman-halamannya. Itu yang mengakrabkan kami. Ia berasal dari Tasik, dan sebagai orang Sunda yang baik dia tentu saja susah membedakan huruf dengan bunyi labial “p”, dan labiodental “v”, dan “f”. Ia pernah marah karena kami tertawa ketika dia bertanya, “Eh, ‘stap’ itu ngetiknya pakai ‘pe’ atau pakai ‘ep’?”

*

“Kerja di bank itu berat. Target tinggi,” katanya. Ia sempat berpindah kerja di dua bank swasta. Di bank kedua - ini yang ia syukuri - selama setahun lebih ia mendapat pelatihan soal seluk-beluk bisnis dan keuangan. Bagi kami yang dari Fakultas Pertanian, tentu itu ilmu baru.

Di bagian kredit, ia harus menyalurkan sejumlah besar dana nasabah. Targetnya gila-gilaan, katanya, tapi tetap saja itu harus dilakukan dengan sangat berhat-hati, sesuai azas kehati-hatian perbankan. “Berangkat kerja sudah stres. Mau sampai kantor tambah stres. Di kantor lebih stres lagi,” katanya.

Ia mulai berpikir membangun usahanya sendiri. Di kampungnya, banyak pengrajin barang-barang cindera mata yang pasarnya terbatas. Barangnya bagus-bagus. Desainnya khas. Dan jarang ada daerah lain yang memproduksi. Ia melihat peluang di situ. Ia berpikir untuk memasarkannya di tempat di mana arus turis tak putus sepanjang tahun: Bali.

“Saya mulai dulu pakai motor. Keranjang kiri kanan penuh sandal buatan Tasik,” katanya. Kalau saya ketemu dia saat itu, katanya, pasti saya tak percaya dan tak kenal. “Saya titip ke toko-toko, ke kios-kios di Sanur, Kuta, Denpasar,” katanya. Bali sama sekali asing buat dia. Ketika pertama kali mendengar dia ada di Bali, dan skala usahanya sudah besar, saya heran. Ketika bertemu, saya tanyakan itu. “Kok bisa terpikir berbisnis di Bali?” tanya saya. “Ya, coba-coba aja…” katanya.

Sepanjang perjalanan dari mobil ke rumahnya di kawasan Jimbaran, saya mengorek banyak pelajaran bisnis dari dia. Kawan saya ini menjaga hubungan sangat baik dengan pengrajin di kampungnya di Tasik. Ia menyeleksi dari beberapa, hingga sekarang punya tujuh kelompok pengrajin dengan jumlah pengraji tiga ratus orang lebih.

“Mereka saya minta hanya menyalurkan hasilnya hanya lewat saya. Beberapa desain dari saya, sesuai kebutuhan turis di Bali sini. Saya bayar kontan ke mereka.Uang saya kirim, mereka terima baru barang dikirim,” katanya.

Dengan cara itu, para pengrajin selalu punya dana untuk berproduksi. “Kalau ada yang minta pinjam uang untuk produksi, berarti ada yang tidak beres dari cara dia mengelola keuangan. Saya tak mau pakai lagi pengrajin yang begitu. Saya tahu berapa keuntungan mereka, dan berapa biaya produksi,” kata kawan saya. Ia dan para pengrajin memakai telepon selular dari satu operator yang sama. “Ini syarat penting kalau mau kerja sama dengan saya, biar murah biaya komunikasi,” katanya sambil terkekeh, ketawa yang sama persis seperti tujuh belas tahun lalu.

Di Bali, dia mempekerjakan sembilan orang. Ada yang membawa mobil boks, dan sebagian lain bermotor. Ia sendiri masih memasok dan menagih ke toko-toko kerajinan di pusat-pusat pelancongan di Bali. Nyaris semua toko sovenir memajang barangnya. Ia sendiri sudah punya satu toko yang dijaga empat orang.

Ia bekerja tanpa publikasi. Ia tak meminta bantuan dari pemerintah. Ia tak memasang iklan. Ia benar-benar telah menghubungkan pengrajin kecil di kampungnya, dengan pasar dan turis pengguna akhir dari apa yang diproduksi para pengrajin tersebut.

“Banyak pengrajin saya sudah pada naik haji. Saya aja yang belum. Pernah saya bercanda dengan mereka.Saya bilang ayo kumpul-kumpul uang dong, kalian ongkosin saya naik haji,” katanya.

Darinya saya tahu betapa mahal tanah di Denpasar. Ia sedang mencari satu lahan di tepi jalan besar untuk toko yang hendak ia bangun. Di toko itu nanti juga merangkap gudang – sekarang ruang rumahnya yang luas harus ia cadangkan sebagian untuk barang-barang dagangannya, itu sebabnya kepada saya ia menyebut bisnisnya, sebagai usaha rumahan - dan kamar-kamar cukup untuk semua orang yang bekerja padanya. “Kasihan, sewa kamar kos sekarang mahal. Saya sudah kasih mereka gaji bagus, tetap saja kalau saya hitung kurang. Kasihan,” katanya.

*

Hari ketika kami bertemu kemarin, dia berkali-kali menelepon dan menerima telepon sopir mobil boks yang berangkat membawa barang-barang dagangannya. Dari jam ke jam ia mengawasi sudah sampai mana perjalanan barang-barangnya tersebut. Sejumlah toko sudah kehabisan stok. Ia salah taksir. Bulan Juni tahun ini ternyata penjualan bagus sekali.

Sambil makan siang yang disiapkan istrinya – yang mengontrol pembukuan bisnis mereka - di rumahnya, saya melihat bagaimana seorang di negeri ini bekerja, tak merepotkan negara, tak mengemis pada pemerintah. Apa yang penting yang dapat saya pelajari dari kawan kuliah saya ini adalah: bisnis bisa dimulai dengan niat memberdayakan orang banyak. Kawan saya telah memberdayakan para pengrajin kecil di kampungnya.[]
[Read More...]


[Kolom] Janji Sebuah Kursi Roda untuk Ibu Kedua



SENJA, dalam perjalanan dari kantor ke rumah, disergap kenangan pada seseorang yang bagi kami adalah ibu kedua, serta teringat pada sebuah janji padanya – ini paduan yang membuat saya menangis dari balik setir.  Saya menangis.  Benar-benar menangis.

*

Kami – para kemenakannya – memanggilnya Angah. Namanya Siti Fatimah. Ia dipanggil begitu karena ia anak kedua dari kakek-nenek kami.  Paman atau bibi tertua kami panggil julak. Lalu setelah  angah, berturut-turut paman dan bibi kami – saudara orang tua kami – dipanggil acil atau antin bila perempuan, nanang bila ia laki-laki, dan dan busu untuk si bungsu. Begitulah tata-krama menghormati orang-orang tua, mengagungkan perkerabatan dan pertalian darah, dengan cara memanggil mereka dalam bahasa kami, Bahasa Banjar. 



Angah meninggal. Abah yang menyampaikan kabar itu padaku. Saya terkejut, meski sudah lama tahu, bahwa Angah tak lagi sehat. Kira-kira sebulan sebelumnya, Angah minta saya menelepon dia. Ia jarang minta saya menelepon, bahkan nyaris tak pernah.  

Saya bicara padanya, sesekali, lewat telepon, sekalian saja kalau saya menelepon ibu atau ayah saya.  Atas permintaannya kala itu, saya menelepon Angah lewat ponsel Busu, yang tinggal bersamanya. Ia bertanya kapan saya pulang lagi ke kampung – tentu saya jawab nanti kalau ambil cuti dan anak-anak libur.  Saya bertanya soal kesehatannya, dia menceritakan soal nafasnya yang sesak. Saya bisa pastikan itu dari suaranya yang berat.

Beberapa bulan sebelumnya, saya sekeluarga pulang kampung, dan kami bertemu. Rumah Angah tepat di sebelah rumah orangtua saya.

“Kalau kamu pulang kampung lagi nanti, mungkin Angah sudah tidak ada,” katanya. Seakan mengabarkan firasat bahwa umurnya tak akan panjang lagi.
  
*

Ya, bagi kami – para kemenakannya – Angah adalah ibu kedua. Ia sendiri tak punya anak kandung. Sampai ajal menjemputnya, ia tak pernah menikah.  Uang hasil kebun kelapanya, warisan dari kakek kami, ia dermakan untuk biaya sekolah kami, para kemenakannya.

Saya ingat, waktu kanak-kanak di sekolah dasar, saya berjualan es blok. Ini sejenis es yang dicetak di tuangan alumunium dan disekat-sekat. Sekatan-sekatan itu membentuk potongan es seperti balok-balok kecil.  Di sekolah banyak juga anak-anak lain yang berjualan.  Persaingan lumayan ketat. Saya punya siasat dagang juga.  Siapa yang membeli es saya, saya beri bonus gambar – kemampuan menggambar saya sejak kecil memang sudah bisa diandalkan. Ya, maksudnya, saya akan gambarkan sesuatu di buku gambar kawan-kawan yang membeli es saya. 

Jika es dagangan saya tak habis, saya harus menjualnya lagi di kampung sepulang sekolah. Jika hingga petang tak habis juga, Angah suka memborong habis semua es yang tersisa.  Satu termos panjang, berisi 40 potong es blok. Satu blok harganya waktu itu Rp25. Tiap sepotong es yang terjual saya dapat upah Rp5.  Itu artinya, jika habis satu termos saya dapat menabung Rp200, plus bonus dua potong es, yang bisa saya makan atau jika saya jual saya dapat tambahan penghasilan Rp50.

Saya kira, dengan begitu – dengan sesekali membeli habis sisa es dagangan saya – Angah mengajarkan bagaimana dia menghargai arti pekerjaan dan bekerja.  Dan pelajaran amat berharga itu ia ajarkan dengan cara lain. Angah kami seorang yang hidup dengan keterbatasan.  Sewaktu kanak-kanak dia sudah menunjukkan kecerdasannya.  Ia lekas tamat mengaji Alquran. Tapi ia tak sampai tamat Sekolah Rakyat. Sakit polio membuat kedua kakinya tidak tumbuh normal, mengecil dan lemah. Seperti sebatang bamban.  Ia sempat memaksakan juga sekolah, meskipun dalam perjalanan ke sekolah – melewati jalan desa yang becek dan bersemak - ia harus puluhan kali tersandung dan jatuh.

Kakinya makin lama makin rapuh. Ia tak lagi bisa berdiri, dan akhirnya hanya bisa bergerak dengan berkisut mengandalkan dua tangan.  Punggungnya tak lagi lurus, tetapi berundak seperti tangga satu tingkat.  Ia suka kalau kami – ketika masih kanak-kanak dulu - duduk  bermain di situ, di punggungnya yang datar itu.

Begitulah, Angah tidak pernah meratapi cacatnya.  Dengan separoh badan normal dan tangan yang kuat dan cekatan, ia tak pernah diam. Ia mencuci pakaian orang serumah – cuciannya sangat bersih, karena ia sikat dan kucek lama sekali – tanpa pernah minta bayaran.  Ia juga pandai menganyam ketupat, dan ia menjadi guru mengaji bagi kami para kemenakannya.

Sejak kakinya lumpuh, sampai ajal menjemput, Angah tak pernah ke mana-mana. Ia hanya bergerak di dalam rumah.  Ia membereskan tempat tidur sendiri, mencuci pakaian di pagi hari, mandi dan berkemas badan setelah itu, tidur siang, sembahyang, mengaji, makan, dan bercakap-cakap dengan siapa saja yang datang mengunjunginya. 

Angah pendengar yang baik.  Jika kami berkumpul saat libur sekolah atau kuliah, ia suka bertanya bagaimana kabar sekolah kami dan ia dengan penuh rasa ingin tahu mendengarkan cerita kami.  Ia selalu terharu gembira ketika kami pulang libur, dan melepas kami pergi lagi dengan linang air mata.

Saya membayangkan betapa membosankannya hidup Angah. Sehingga, dulu, mungkin ketika saya SMA, atau mungkin sudah kuliah di tahun pertama, saya pernah berjanji padanya. Nanti saya akan belikan kursi roda untuk Angah. Saya akan membawanya dengan kursi roda itu keliling kampung, dan kelak kalau saya punya mobil, saya akan bawa Angah ke kota.  Angah tertawa senang mendengar apa yang saya janjikan itu. Ia mungkin mengira saya main-main saja untuk menghibur dia.

*

Angah meninggal dengan tenang. Setelah adik bungsunya meninggal beberapa tahun lalu, Angah dirawat – termasuk disuapi makan - oleh sepupu kami, kemenakan yang tinggal serumah dengan Angah. Tiga hari menjelang ajal menjemput, ia tak mau makan banyak.  Dan pagi itu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Ayu, sepupu kami yang di hari-hari terakhir menyuapi Angah makan, dengan mata berurai tangis berlari ke rumah sebelah, rumah masa kecil saya. Ayah saya segera memeriksa Angah. “Angah sudah tidak ada lagi,” kata Ayah saya. Ia segera menelepon saya.  “Angahmu meninggal, baru saja.”   Ya, semuanya berasal dari Allah, dan kepada-Nya, segalanya kembali.  Tak lama berselang, adik-adik saya juga mengabarkan berita duka itu kepada saya. “Ya, saya sudah dengar dari Abah,” kata saya.

*

Senja, dalam perjalanan dari kantor ke rumah, disergap kenangan pada Angah, serta teringat pada janji membelikan dia kursi roda dan mengajaknya jalan-jalan ke kota – janji yang tak mungkin bisa saya tunaikan lagi - membuat saya menangis dari balik setir.  Janji yang tak terpenuhi itu, jauh lebih menyesakkan dada, daripada rasa sesal lain sebab saya bahkan tak sempat menghadiri pemakamannya. Saya tak ikut berdiri menyembahyangkan jenazahnya.  Saya menangis.  Benar-benar menangis.  []
[Read More...]


[kolom] Paspor Pertama bagi Seorang Ibu yang Menyusui Bayinya



Paspor Walt Disney
SAAT-SAAT agak dramatis ketika kita datang ke suatu negeri asing adalah saat berdiri di depan petugas di loket imigrasi.  Mestinya ini hanya menjadi peristiwa administrasi kependudukan biasa, tapi di loket pengecopan paspor itu,  kita tidak lagi berdiri hanya sebagai diri kita  sendiri. Di situ kita seakan membawa beban segala persoalan bangsa.

Saya pernah ditahan petugas Imigrasi di pintu masuk Woodland, Singapura, setelah melancong berombongan dari Thailand dan Malaysia. Pada tahun-tahun itu Bom Bali seakan masih mengepulkan asap. Slamet Kastari belum ditangkap.  Dengan kumis dan janggut, serta nama dari bahasa Arab, dan kemudian saya juga menyebut diri sebagai wartawan, maka saya rasanya saat itu memang layak ditahan.

Begitulah, nyaris satu jam lamanya, saya duduk di ruang tunggu, tak ditanya apa-apa. Petugas Imigrasi Singapura dengan mata penuh selidik, berkali-kali melirik saya dan seakan mencocokan dengan sesuatu di layar monitor komputer kerjanya. Mungkin foto. Mungkin juga entah data apa  tentang seseorang di situ.  Begitu saja, lalu nama saya dipanggil dan dipersilakan melanjutkan perjalanan.

Saat ini, memegang paspor bergambar burung Garuda memang bukan hal yang enak. Di pintu-pintu imigrasi di berbagai Negara, radar keawasan petugas jadi berlebih. Ini dialami beberapa kawan yang kerap bepergian ke luar negeri.  Beberapa orang bahkan harus membatalkan kunjungan karena ditolak dengan alasan keamanan. Sangat tidak nyaman.


Apa boleh bikin. Paspor memang lahir dari kecemasan dan perlunya rasa aman.  Bentuk awal paspor bermula di Inggris, meskipun ada penemuan sejarah atau disebut dalam salah satu kitab suatu agama, raja Persia mengeluarkan semacam surat jaminan bagi seseorang yang hendak bepergian, sebagaimana prinsip dan guna paspor saat ini.  Ya, enam abad lalu, tepatnya tahun 1414, Raja Henry ke-5 mengeluarkan semacam surat jalan bagi siapa saja yang bepergian memintasi batas-batas negeri lain. Surat ini semacam jaminan keamanan, bahwa si pemegang surat tidak akan bikin perkara di negeri yang ia kunjungi.  

Sampai tahun 1772, paspor diterbitkan dalam bahasa Inggris.  Dan ini bermasalah. Soalnya pada masa itu, bahasa Inggris yang kini mengglobal adalah bahasa kelas dua. Jauh kalah gengsinya dengan bahasa Prancis.  Rupanya, yang meminta paspor kepada raja Inggris kala itu, tidak hanya orang Inggris, tapi juga penduduk dari negara-negara tetangganya.  Kenapa? Mungkin karena saat itu belum banyak yang merasa perlu paspor dan raja-raja Eropa itu rata-rata masih bersepupu.  Karena itulah, pada tahun 1772 mulailah diterbitkan paspor dengan bahasa Prancis, meskipun tetap saja yang mengeluarkan dan teken raja Inggris.   Kata paspor sendiri berakar dari kata dalam bahasa Prancis “passeport”, yang sekarang lazim diartikan artinya surat izin keluar atau masuk di atau dari sebuah pelabuhan. Meskipun sebenarnya kata “port” itu berakar dari kata “porte” yang berarti gerbang. Pada masa itu, perjalanan memasuki sebuah negeri di Eropa itu biasanya melewati gerbang-gerbang  penjagaan.

Karena terus dikembangkan dan disempurnakan, antara lain lewat maraknya penulisan-penulisan sastra bermutu, bahasa Inggris menjadi bahasa yang mengungguli bahasa-bahasa Eropa lainnya. Juga seiring dengan merebaknya nasionalisme, pada 1858, paspor oleh kerajaan Inggris hanya dikeluarkan untuk warga negaranya sendiri. Paspor pun kembali diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Dan sejak pecah perang Dunia Pertama, 1914, banyak negara, masing-masing mulai menerbitkan paspornya sendiri, untuk membedakan dengan – tidak semua negara lain, tapi hanya yang “diangap” asing.  Inggris yang sudah lebih dahulu mengembangkan jenis dokumen ini sudah lebih dahulu maju selangkah, karena sejak tahun 1914 itu di negeri itu paspor menggunakan foto diri si pemegang paspor.

 Sebelumnya, tanpa foto, urusan memastikan bahwa yang bepergian itu adalah benar-benar si pemegang paspor sedikit repot. Di paspor hanya disebutkan cirri-ciri kuping, dahi, hidung, mulut, bentuk wajah, rambut, tinggi badan dan lain-lain, sampai-sampai demi kepentingan itu para ahli ilmu sosial membuka cabangnya sendiri.  Bayangkan, betapa membosankannya bagi seorang petugas imigrasi kala itu, ketika ia mengecek paspor, karena itu seperti membaca novel yang tengah menguraikan ciri-ciri salah seorang tokoh ceritanya.  Bayangkan juga seandainya kita hidup pada masa itu. Bagaimanakah kira-kira wajah kita dideskripsikan?

*

Kapan dan siapakah orang di Indonesia yang punya paspor Indonesia?  Tahun 1948, tepatnya 8 September. Siapa pemilik paspor itu? Seorang ibu yang bersama bayi perempuannya yang diminta suaminya menyusul ke Amerika.  Sebelumnya setiap orang yang bepergian dari negeri ini, meskipun sudah memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, harus membawa paspor yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial yang menguasai negeri yang masih bernama Hindia Belanda.

Paspor pertama itu lahir berkat kecerdikan diplomasi Perdana Menteri Sjahrir.  Dengan adanya seseorang yang memiliki paspor yang dikeluarkan pemerintah Indonesia, semakin tegas pernyataan kemerdekaan Indonesia yang pada tahun-tahun itu terus diperkecil artinya oleh Belanda.

Saat itu Soedarpo Sastrosatomo, diplomat kelahiran Langkat, Sumatera Utara, 30 Juni 1920 itu, secara mendadak harus berangkat ke New York, Amerika,  ikuti  sidang Dewan Keamanan PBB untuk menggugat agresi militer Belanda. Soedarpo pegang peran penting, karena ia ditugasi menangani urusan dengan pers asing.  Masalahnya ia harus meninggalkan istinya Minarsih Wiranatakoesoemah, dan anaknya yang masih menyusu.

Sjahrir memerintahkan agar Minarsih menyusul tapi dengan catatan, ia harus menggunakan paspor Indonesia. Inilah kecerdikan Sjahrir. Ia sudah memperjuangkan hal itu lewat jalur diplomasi sejak Perjanjian Linggarjati, 25 Maret 1947.  Maka berangkatlah Minarsih dengan paspor biru  – bukan hijau seperti paspor kita saat ini, tebalnya 48 halaman, berlakunya tiga tahun, dan diteken oleh Sekjen Kementerian Luar Negeri Soerjotjondro. Ia naik pesawat milik maskapai Belanda, KLM,  singgah di Bangkok, Karachi, dan Kairo. Ini memang diatur oleh Sjahrir.  Minarsih yang saat itu juga masih memegang  paspor Hindia Belanda, baru mengeluarkan paspor keduanya itu saat mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.  Dari situ ia lalu menuju New York menyusul suaminya.

Majalah Tempo yang melaporkan kisah paspor pertama itu pada edisi 9 Maret 2009, menuliskan, di Amerika  petugas imigrasi bingung membaca nama Indonesia dan akhirnya memberi keterangan  pada lembar visa dengan kalimat ini - tentu dalam bahasa inggris:  Istri dan anak perempuan petugas Pemerintah Asing yang tidak diakui oleh pemerintah Amerika Serikat.

Tak diakui, tapi itu adalah sebuah bentuk pengakuan. Apapun, hal kecil itu, bukanlah perkara sepele.  Sebuah paspor, telah berhasil menegaskan kemerdekaan sebuah negara bernama Indonesia. Dan perjuangan diplomasi kita pada saat itu berhasil gemilang.

*          
Paspor saya sekarang adalah paspor yang kedua. Maksud saya bukan saya punya dua paspor, tapi ini paspor kedua setelah yang pertama habis bukan karena saya terlalu sering bepergian ke luar negeri, tapi karena habis lima tahun masa berlakunya.

Di dokumen itu saya sedikit tersenyum. Saya tidak tahu persis kenapa itu diperbolehkan. Seharusnya kita di situ tak boleh berekspresi apa-apa, datar-datar saja. Di Amerika peraturan itu hanya dikecualikan untuk Walt Disney, karena dia dianggap berjasa membuat jutaan orang di Amerika bahkan di dunia tersenyum karena cerita dari tokoh kartun-kartun yang ia ciptakan. []
[Read More...]


Segera Terbit Buku Kolom Kamisan




Saya Menulis Kolom Supaya
Punya Alasan untuk Marah

Oleh Hasan Aspahani

SAYA menyebut kolom-kolom saya di buku ini sebagai kolom 1.000 kata. Karena, setiap kolom panjangnya kurang-lebih seribu kata. Tidak terlalu panjang, tak juga terlalu pendek.

Artikel kolom sepanjang itu cukup untuk menampung gagasan yang seminggu sekali ingin saya bagikan kepada pembaca Batam Pos, surat kabar yang sejak 2008 lalu, setiap kamis menerbitkan kolom saya ini. Dan yang paling penting, tak sampai membosankan.




Meskipun tulisan saya tidak selalu mewakili sikap koran saya terhadap suatu isu yang sedang hangat, saya tetap menulis dengan mempertimbangkan posisi koran saya Batam Pos.

Kenapa namanya Kolom Kamisan? Karena, kolomnya terbit setiap hari kamis, dan saya tak punya tema tetap. Kolom saya bisa bicara soal kepemimpinan, politik, bisnis, pendidikan, agama, sastra - khususnya puisi, obrolan dengan kawan, serba bacaan, reportase dengan sudut pandang sangat personal, dan lebih sering bicara soal hal-hal ringan yang sedikit saja akan jatuh ke wilayah omong kosong.

Begitu luaskah pengetahuan saya sehingga bisa menulis tema dengan rentang seluas itu? O, tidak! Saya hanya sejak lama menjalankan nasihat Arswendo Atmowiloto. Katanya, wartawan itu orang yang tahu serba sedikit tentang banyak hal.

*

Suatu malam, dalam rapat para pemimpin perusahaan Jawa Pos Grup - di Pekanbaru, CEO Rida K Liamsi  mengabarkan - entah seperti apa bermula arus pembicarannya, saya lupa - kepada Chairman Dahlan Iskan bahwa saya ada menulis kolom mingguan di surat kabar yang mereka percayakan untuk saya pimpin. Pak Dahlan tertarik dan minta contoh. Pagi harinya, kami sarapan bersama dan inilah perbincangan kami:

"Kamu banyak membaca, ya?"

"Ya, Pak. Lumayan."

"Kalau kamu tak banyak membaca, pasti kamu tidak bisa menulis kolom sekaya dan sebagus kolommu itu."

"Terima kasih, Pak."

"Kalau saya kurang membaca. Tulisan saya kan, kalau kamu perhatikan, hanya reportase biasa."

"Tapi, itu kekuatannya, Pak. Reportase biasa yang luar biasa, karena sudut penulisannya tak mungkin dilihat oleh orang lain. Serial tulisan ganti hati itu misalnya."

"Terus menulis, ya.."

"Oke, Pak."

Kolom saya terbit di halaman opini. Di luar hari Kamis, halaman itu diisi oleh pembaca Batam Pos. Saya bisa saja menerbitkan kolom saya itu di halaman lain, tapi, itulah alasan lain saya menulis: mengurangi anggaran bayar kolom kepada penulis luar, soalnya saya sendiri tentu tak akan minta bayaran.

Saya menulis juga supaya saya punya alasan untuk marah. Saya bisa bilang ke wartawan saya yang malas - malas menulis dan membaca - bahwa saya  juga masih sempat menulis seminggu sekali.

Sejak perbincangan dengan Pak Dahlan itu, saya jadi lumayan percaya diri bahwa kolom mingguan saya itu ada juga nilainya. Selama ini, beberapa pembaca secara langsung atau lewat SMS juga sering berkomentar dan mengungkapkan kesukaannya. Dengan percaya diri itu pula, saya berani mengumpulkan sebagian kolom-kolom itu, dan menerbitkannya di buku ini - yang semoga akan diiringi jilid-jilid berikutnya.[]   


Inilah daftar isi buku Kolom Kamisan
 
ETOS
Dari Kolong Tangga Kampus 
Kekuatan Pikiran
Kaidah Lebah Terbang 
Inspirasi dari Kennedy
The Hunter: Setelah 20 Tahun
Si Adik Besar

DEDIKASI
Bahasa Merepotkan Bangsa
Bersebati dengan Bumi, Berserah pada Sejarah
Mengambil Telur Tuhan
Semangat Rendra
Bersama CA, SDD, SCB dan GM
Gelman, Macarena, dan Cervantes
Puisi yang Ditakuti Perdana Menteri
Jangan ”Habisi” Sapardi

MILITANSI
Dari Adinegoro, Pulitzer, Rida, hingga Presiden SBY
Pelajaran dari Tempo
Dari "Preman" ke "Lampu Merah"
Farid Gaban Singgah di Batam
Penjahat New York dan Teori ”Jendela Pecah”

EMPATI
Bersama Gibran ke Batuaji
''Hapuskan Israel dari Muka Bumi!'' Kata Orang Yahudi
Thor & Mjolnir
Ganti Gigi
Waktu Menguasai Kita, Kita Mengatur Waktu

SIKAP
The Sense of  Kepepet
Ha ha ha ha ha
Kéré ”Paman Tyo” Kêmplu
Tentang Tiga Orang

[Read More...]


 
Return to top of page Copyright © 2010 | 2012 - Lost Saga Template Copyright 2010-2012 MasihTertulis