Sajak yang Cengeng



"TULISKANLAH aku," kata sebuah sajak yang cengeng
kepadanya, dia yang tak tahu kenapa disebut penyair.

"Kemarilah," katanya, pada sajak itu. Ia memasuki
kata-kata di sajak itu ke dalam hatinya. Ia mencoba
mengucap kalimat-kalimat sajak itu setakzim-takzimnya.

Ia tak mencoba menangis, tapi ada yang mengalir entah
dari bagian mana di sajak itu, terjun deras ke matanya.

*

"Tuliskanlah aku," kata sebuah sajak yang cengeng
kepadanya, dia yang tak tahu kenapa yang selama ini ia
tulis - sebagai tafsir atas tangis - itu disebut sajak.

Ia, sebenarnya telah lama berada dalam sajak cengeng itu,
ia, di bait-bait itu, terbiasa menertawakan kesedihan,
menangisi kegembiraan, dan menyembunyikan kecengengan.

"Tawa itu, sebenarnya, adalah tangis yang disamarkan,"
ia mengutip sebuah ayat yang tak sempat diwahyukan.






Responses

0 Respones to "Sajak yang Cengeng"

Posting Komentar

 
Return to top of page Copyright © 2010 | 2012 - Lost Saga Template Copyright 2010-2012 MasihTertulis