Aku cuma singgah mandi, menumpang menghapus daki, membasuh kaki, di sumur yang kugali tadi.
Aku mencuci muka, tempungas, membasuh najis air mata. Ah, menangis pun aku cuma pura-pura.
Aku cuma penggali sumur, seperti sajak yang dangkal, tak sampai ke makna air mata, ke sumber akal.
Label:
cerpen
Previous Article



Responses
0 Respones to "Sajak yang Dangkal"
Posting Komentar