Matahari itu, aku kira, adalah paket kilat,
kiriman rutin dari kantor Tuhan. Ia yang
mengirim semacam Selamat Pagi, ke bumi.
Aku tak mau terlambat menjawab. Tapi, jangan
cepat pergi ya, Matahari! Tuhan sudah tahu
jadwal hari liburku, bukan? Hari ini aku
sedang mencuci, hari yang kusut, cinta yang
kumal, hati yang kotor: ini kutukan kantor.
Mesin cuciku, tak membilas sempurna, kau
tahu, Kau tahu. Sabun cuciku, buih keringatku.
:: Terima kasih untuk @banyupadmatangi
Label:
cerpen,
shania
Previous Article



Responses
0 Respones to "Di Pucuk Pohon bukan Cemara, 1"
Posting Komentar