"Setiap kata, setiap kalimat, setiap bait kelihatan ditimbang matang-matang, sehingga mencapai efektivitas yang maksimal," kata Ajib.
Chairil pun, kata Ajib, memperkenalkan imaji-imaji baru atau asing dalam Bahasa Indonesia. Pada satu pihak, ia banyak mempergunakan kata-kata Bahasa Indonesia sehari-hari, sementara itu dia juga meningkatkan hal-hal keseharian itu sehingga mencapai kesemestaan.
Dengan kata lain: kata-kata itu meskipun dipungut dari bahasa sehari-hari telah diasahnya sedemikian rupa sehingga di dalam sajaknya menjelma menjadi sesuatu yang berbobot puisi.
Kita bisa belajar dari sini, yaitu bahwa untuk menciptakan yang hebat, seperti sajak-sajak Chairil, kita harus memaksimalkan efektivitas kata dan kalimat. Bagaimana caranya?
"Chairil bersungguh-sungguh menimbang segala yang hendak ditulisnya," kata Ajib.
Kesungguhan itu bisa kita temukan bukti lain dalam kartu posnya kepada Jassin bertanggal 10 April 1944. Chairil menulis: Jassin, yang kuserahkan padamu - yang kunamakan sajak-sajak! - itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru. Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa "tingkat percobaan" musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.
Lihat, betapa Chairil dengan sadar - dalam sajak-sajaknya - melakukan pencarian dan percobaan untuk menemukan kiasan-kiasan baru. Dan dia melakukan itu berulang-ulang, "bertingkat-tingkat", sampai ia merasa telah menghasilkan sajak sebenarnya.
Label:
cerpen,
chairil
Previous Article



Responses
0 Respones to "[Mempergunjingkan Chairil # 04] Menulis Sajak adalah Menyelenggarakan Sebuah Percobaan!"
Posting Komentar