Maka kupetiklah. Dengan ragu di tangan, dan gemetar di hati. Seperti memetik seluruh engkau. Bagaimana nanti aku menanamnya?
Kau kutanam di samping sebatang pohon malam. Kau tumbuh dan merambat di situ. Aku suka menangis, menyiramkan airmataku.
Kelinci yang tertidur di mataku, terbangun, dan melompat. Ia tak takut lagi pada tajam gunting waktu. Ia rindu bulan dalam kalender tubuhmu.
Label:
cerpen
Previous Article



Responses
0 Respones to "Gunting Waktu"
Posting Komentar